Catatan Kritis atas “Wajah Buram Pluralisme di Kampus Islam”

(Taken from Syir’ah Online, 26-3-2007)

Oleh : GINANJAR NUGRAHA*

Kekhawatiran akan runtuhnya pluralisme dengan tumbuh suburnya LDK dan HTI di berbagai kampus Islam adalah kecemasan yang tidak beralasan. kesadaran akan pluralisme harus dipahami sebagai sebuah proses yang panjang. Dan proses tersebut, sedang dijalani oleh berbagai organisasi mahasiswa, termasuk oleh LDK dan HTI.

Tulisan Rosita Indah Sari berjudul “Wajah Buram Pluralisme di Kampus Islam” terlalu bias dan tak didukung argumentasi yang kokoh. Ini bisa dilihat dari bangunan argumentasi yang digunakan. Tesis besarnya adalah pesatnya perkembangan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di berbagai kampus Islam menuai kehawatiran akan meningkatnya fundamentalisme di kalangan mahasiswa. Akibatnya, pluralisme dan moderasi yang selama ini menjadi basis dasar hubungan antar organisasi mahasiswa terancam. Dalam tulisan ini, saya hanya akan memberikan beberapa catatan kritis terhadap tulisan tersebut.

Pertama, pesatnya perkembangan jumlah anggota LDK dan HTI di berbagai UIN/IAIN tak perlu ditanggapi secara berlebihan dan dikhawatirkan. Kemajuan tersebut sudah sesuai dengan geist zaman. Peter L. Berger dalam A Rumor of Angels “mengakui” dan “bertobat” bahwa teori sekularisasi telah gagal dan harus mengakui keunggulan agama dalam hal ini. Religion yes seculer no. Bahkan menurut Habermas, kita sedang berada di era masyarakat Post Secular. Di samping itu, di berbagai negara di Amerika dan Eropa terjadi gerakan back to religion. Tren tersebut sebagai resistensi terhadap efek-efek negatif modernitas yang memusuhi agama dan menyebabkan manusia tercerabut dari keduniaannya.

Kedua, ketertarikan mahasiswa untuk lebih memilih LDK dan HTI dari pada gerakan Islam yang lain, menggunakan pendekatan rational choice theory, merupakan pilihan rasional. Karena bagi mereka, pilihan tersebut melalui pertimbangan yang matang, apa yang terbaik dan memenuhi kebutuhan, baik secara intelektual maupun spiritual. Jadi bukan ikut-ikutan dan terdoktrinasi sebagaimana yang dituduhkan orang-orang yang tidak simpati kepada LDK dan HTI. Kampus adalah ibarat pasar. Setiap pedagang berusaha menjajakan dan meyakinkan bahwa produknya yang terbaik. Hasilnya, kita serahkan ke pembeli bukan klaim dari si pedagang. Dan tentu saja mahasiswa bukanlah orang yang bodoh, ia akan memilih mana dagangan yang terbaik.

Ketiga, penilaian apriori terhadap LDK dan HTI, bahwa mereka fundamentalis dan anti pluraris lebih berbau politis daripada betul-betul mengklarifikasi untuk mencari kebenaran. Tergantung siapa yang menggunakan istilah tersebut untuk kepentingan politiknya. Apalagi, siapa yang bisa lepas dari fundamentalisme. Semua gerakan mempunyai potensi fundamentalisme. Ada fundamentalis pluralis, fundamentalis liberal, fundamentalis progresif dan lainnya. HMI, PMII, IMM, KAMMI, GMNI dan lainnya tentu saja akan mempertahankan ideologinya masing-masing. Menjadi fundamentalis pun bukan hal yang negatif, tergantung pencitraan yang dibuat dalam wacana.

Keempat, pandangan pun terlalu monolitik dalam menilai sebuah persoalan yang begitu kompleks. Dalam tubuh setiap organisasi mahasiswa manapun, kita tidak akan menemukan keseragaman, biasanya terfragmentasi ke dalam beberapa kelompok. Tentunya dengan berbagai variannya yang khas. Kalau hanya melihat HMI Ciputat, tentu saja sangat liberal. Akan tetapi, kalau menengok ke Aceh, akan tampak HMI yang lebih fundamentalis dari LDK maupun HTI.

Kelima, tulisan tersebut terjebak dalam mempersamakan pluralisme dangan relativisme kebenaran maupun agama. padahal keduanya berbeda dan tidak bersifat kasualistik. Pluralisme tak mengandaikan relativitas keyakinan kita. Kita dapat mengakui the others tanpa harus menanggalkan keyakinan kita pada kebenaran maupun agama. menurut Berlin dalam The Crooked Timber of Humanity, pluralisme adalah pengakuan bahwa segala sesuatu memiliki keunikan, tak dapat dibandingkan dan tak dapat disatukan. Jadi nilai plurarisme tidak mengarah pada relativisme kebenaran maupun agama.

Keenam, saya setuju bahwa plurarisme bukan hanya mengandaikan pengakuan, tapi juga dialog terus menerus antar elemen organisasi mahasiswa. Hal ini harus terus diwacanakan, didiskusikan dan tentu saja dipraktekkan. Kesadaran akan pluralisme harus dipandang sebagai sebuah state of becoming bukan sebagai state of being. sehingga kita bisa lebih adil dan bijak dalam menilai sebuah persoalan. Proses tersebut, didalam tubuh LDK dan HTI maupun di HMI, PMII, IMM, KAMMI dan lainnya.

Akhirulkalam, kekhawatiran akan runtuhnya pluralisme dengan tumbuh suburnya LDK dan HTI di berbagai kampus Islam adalah kecemasan yang tidak beralasan. kesadaran akan pluralisme harus dipahami sebagai sebuah proses yang panjang. Dan proses tersebut, sedang dijalani oleh berbagai organisasi mahasiswa, termasuk oleh LDK dan HTI. Masalah pluralisme adalah masalah kita bersama. Tapi akan bermasalah jika dilakukan secara a priori dan tendensius dengan menyudutkan pihak tertentu. “Aku mencintai Plato, tapi aku lebih mencintai kebenaran” kata Aristoteles. []

*Aktivis LDK Syahid, Mahasiswa semester VI A Jurusan Tafsir Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sebuah Renungan *

Deru tembak terdengar dipenjuru negri

Mayat-mayat bergelimpangan bagai kapas yang diterbangkan

Tangisan, hantaman dan cacian terdengar menggelegar

Nampak seorang gadis duduk sendiri

sambil memeluk erat seorang ibu yang sudah tak bernyawa lagi

darah bersimbah disekujur tubuhnya

airmata berderai dikelopak matanya yang bulat

isak tangisnya terus terdengar tiada henti

bibirnya bergumam, merintih memanggil saudaranya

“dimanakah kalian wahai saudaraku?”

Sebuah tanya yang membuat jiwa menangis

Dikota seribu malam itu tragedi memilukan itu terjadi

Tetesan darah mengalir bagai air yang mengalir

Bocah-bocah berlarian mencari tempat tuk bersembunyi

Tentara biadab itu tiada henti menembaki

Tawa mereka menggelegar bagai lahar digunung merapi

“Tidakkah kau dengar jerit tangis mereka wahai saudaraku?”

Mereka memanggil, mencari saudaranya

Dimanakah kita ketika seorang gadis diperkosa,

Dimanakah kita ketika seorang anak kecil yang tak berdosa ditembaki

Dimanakah kita ketika seorang pemuda dipukuli dan diseret bagai binatang

Masih bisakah kita berdiam diri melihat saudaranya disiksa,

dibunuh, dibombardir tanpa prikemanusiaan

coba tanyakan kedalam hati kita yang paling dalam

“apakah benar kita saudara mereka, namun kita begitu acuh dan tidak peka akan apa yang terjadi pada saudara kita disana?”

“apakah benar kita saudara mereka, namun kita hanya menonton dikejauhan ketika sulutan pistol menembus dada mereka?”

“apakah benar kita saudara mereka, ketika bom-bom memusnahkan kota-kota itu dan kita hanya berdiam diri saja?”

Bangkitlah wahai saudaraku……….!

Marilah kita menolong mereka dengan mempererat ukhuwah diantara kita

Marilah kita berjuang sampai titik darah penghabisan sehingga syahid dapat kita raih

Waktu tidak akan pernah kembali

Berapakah sisa umur yang kita miliki untuk berjuang menuju Ridha-Nya

Pantaskah kita mengharap surga-Nya, sedangkan dosa masih kita jalani dengan santainya

Ingatlah duhai saudaraku, hidup kita ini menentukan kehidupan kita selanjutnya yang abadi

Rasulullah pernah bersabda: “ kedua telapak kaki seorang anak Adam di hari kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya mengenai 5 perkara. Tentang umur-nya, untuk apa dihabiskan? Tentang masa muda-nya, apa yang dilakukan? Tentang harta-nya, darimana ia peroleh & untuk apa ia belanjakan? Dan tentang Ilmu-nya, apa yang ia kerjakan dengan ilmunya itu?” (HR. Ahmad)

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati kami ini telah benar berkumpul atas kecintaan hanya kepada-Mu, telah bertautan atas ketaatan kepada-Mu, telah bersatu dalam da’wah-Mu, telah berjanji serta untuk membela agama-Mu, maka perkokohlah ya Robbi ikatan pertalian kami, abadikanlah kasih sayang diantara kami, dan tunjukilah kami jalan yang lurus. Penuhilah dengan cahaya-Mu yang tiada pernah redup. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan iman hanay kepada-Mu, dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah kami dengan berma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid diatas jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong”.

 

 

 


* Ikhwah yang merindukan manisnya ukhuwah

RAMADHAN SEBAGAI BULAN MENINGKATKAN UKHUWAH*

 

Islam telah mengajarkan kepada kita tentang pentingnya ukhuwah. Ini dapat dilihat sebagai contoh dalam shalat berjamaah, dimana shalat berjamaah memilki tujuan pokok untuk menanamkan semangat persaudaraan dan tolong menolong serta mewujudkan solidaritas social diantara kaum muslimin. Selain itu, shalat berjamaah juga memiliki nilai amal yang dilipat gandakan menjadi 27 derajat. Juga dalam hal hukum fardu kifayah, seperti menunaikan shalat mayat, jika tidak ada seorang pun yang yang menyalatkan jenazah, maka berdosalah seluruh kaum yang tinggal didaerah tersebut. Alangkah indahnya ajaran tentang berkesadaran social, persaudaraan dan kebersamaan.

Dalam ukhuwah terdapat jenjang dari yang terendah sampai yang tertinggi.

 

v Ta’aruf

Ta’aruf berarti saling mengenal sesame manusia. Saling mengenal diantara sesama muslim adalah langkah awal, bahkan ia merupakan langkah utama dalam menuju terjalinnya ukhuwah karena Allah SWT. Ia merupakan kunci pembuka hati, penjinak dan penarik simpati. Tahapan ta’aruf mengantarkan kepada tahapan berikutnya menuju ukhuwah Islamiah; yaitu ta’aluf

v Ta’aluf

Ta’aluf berarti bersatunya orang muslim satu dengan lainnya. Kita selalu meminta dalam setiap do’a kita agar Allah SWT senantiasa mempersatukan hati-hati kita dalam ketaatan kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya: “Ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu pada masa jahiliyah bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian dan menjadikan kalian orang-orang yang bersaudara karena nikmat-Nya”. (Qs. Ali Imran: 103). Hendaklah seorang muslim dengan muslim lainnya bersatu dalam ikatan kecintaan hanya kepada Allah SWT dan karena Allah SWT semata.

v Tafahum

Sikap tafahum (saling memahami) diawali dengan sikap kepahaman dalam prinsip-prinsip ajaran Islam, lalu dalam masalah-masalah cabang yang juga perlu dipahami bersama. Prinsip yang harus dipahami bersama oleh setiap muslim adalah:

ü Berpegang kepada aturan Allah SWT. Artinya, menjadikan Allah sebagai sandaran dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

ü Berpegang teguh kepada tali Allah SWT, sedangkan tali Allah SWT adalah Al-Qur’an.

ü Tolong menolong dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya, yang dilakukan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam.

ü Mengadakan ikrar untuk menolong agam Allah SWT dan membela kebenaran, betapapun berat resiko dan kesulitan yang mesti ditanggung.

ü Berupaya menghilangkan sebab-sebab timbulnya kebencian, permusuhan dan perpecahan.

v Ri’ayah dan Tafaqud

Pengertian ri’ayah dan tafaqud adalah hendaknya seorang muslim memperhatikan saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya memintanya, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ditunaikan. “Tidak beriman seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

v Ta’awun

Ta’awun berarti saling membantu. Ta’awun adalah buah dari ri’ayah dan tafaqud. Ia bisa memperkokoh ikatan-ikatan antar orang-orang yang berukhuwah dalam Islam, serta memperkuat fondasi dan tiangnya. Indikasi-indikasi ta’awun yang dilaksanakan banyak jumlahnya, diantaranya:

Ø Ta’awun dalam memerintahkan kepada yang ma’ruf

Ø Ta’awun dalam memerintahkan yang munkar

Ø Ta’awun dalam mendekatkan dan mendorong manusia untuk berada diatas kebenaran, menghubungkan mereka dengan jalan petunjuk, dan berupaya terus menerus untuk mengubah mereka dari satu keadaan ke keadaan lain yang lebih diridhai Allah SWT.

 

 

v Tanashur

Tanashur memiliki arti lebih dalam dari ta’awun dan lebih menggambarkan makna cinta dan loyalitas. Tanashur memiliki banyak makna:

Ø Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci.

Ø Hendaknya seorang mencegah saudaranya dan menolongnya dari syetan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari pikiran-pikiran buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan.

Ø Menolongnya menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran, jalan hidayah, dan jalan dakwah.

Ø Menolongnya baik saat menzalimi maupun dizalimi.

Orang-orang yang berukhuwah dan bertanashur dalam kebenaran dan diatas kebenaran adalah paling layak memperoleh ridha, bantuan, dan pertolongan Allah SWT. Allah telah menjelaskan bahwa Dia pasti menolong siapa saja yang menolong agama-Nya. Firman-Nya dalam Al-Qur’an: “( yaitu ) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alas an yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang didalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Qs. Al-Haaj: 40)


* Referensi : ikhsan nurul huda, Menjalani hidup dengan hikmah

Perencanaan Karir Aktivis Dakwah

Hudzaifah.org – Pembicaraan mengenai karir belum banyak terungkap di kalangan aktivis dakwah. Buktinya? Tanyakanlah kepada 10 orang yang anda kenal sebagai aktivis dakwah (sekolah ataupun kampus) mengenai apa yang akan mereka lakukan setelah menyelesaikan studinya? Lebih kongkrit lagi, apa sih pekerjaan yang akan mereka tekuni untuk mendapatkan penghasilan? Saya yakin, paling tidak saya pernah bertanya kepada lebih dari 10 orang aktivis kampus, dari sepuluh orang itu yang bisa menjawab secara meyakinkan paling banyak hanya satu orang. Yah, satu orang!


Banyak hal yang bisa diungkapkan untuk menjelaskan fenomena ini. Satu diantaranya adalah, ketidakjelasan orientasi masa depan, terutama yang berkaitan dengan sumber penghasilan kita, ya karir itu. Padahal, kalau kita mengetahui peran dan fungsi karir dalam aktivitas sebagai da’i, optimalisasi dan efektivitas kita sebagai da’i akan sangat terbantu bila kita memahaminya.


Perencanaan karir, sama halnya dengan perencanaan yang lain, akan memberikan arah/orientasi terhadap apa yang akan kita lakukan di masa depan terkait dengan apa yang akan kita lakukan sebagai sumber penghasilan kita. Perencanaan karir memungkinkan bagi kita untuk mengambil langkah-langkah strategis dan taktis dalam aktivitas keseharian kita, sehingga kita lebih terfokus untuk menuju hal yang memang kita ingin lakukan, tidak hanya sekedar mengikuti arus dan tren yang berkembang saja.


Perencanaan karir akan membuat berusaha untuk mengelaborasi lebih jauh mengenai diri kita, terutama mengenai kelebihan-kelebihan kita, hal-hal yang kita sukai dan nilai-nilai yang kita yakini dalam diri kita atau bahkan kekurangan diri dan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan.


Sangat mungkin terjadi pada kita, bila tidak memiliki perencanaan karir yang matang, tidak akan pernah memiliki orientasi yang jelas terhadap apa yang akan menjadi sumber penghasilan kehiduoan kita. Pikiran, tenaga dan aktivitas kita pun tidak akan terfokus pada hal yang benar-benar kita inginkan, melainkan lebih kepada apa yang sedang menjadi tren.


Contoh sederhana misalnya, kalau sejak awal kita telah memutuskan untuk berkarir dalam pengembangan penjualan/penerbitan buku dan majalah, kita tidak perlu sibuk membeli koran untuk mencari lowongan pekerjaan atau tanya sana-sini mengenai pekerjaan ”apa saja yang penting kerja”. Kita akan lebih produktif misalnya, mencari tahu kepada penerbit/toko buku yang sukses dalam usahanya, bahkan mungkin kita perlu masuk dalam barisan toko buku itu untuk mengetahui core business strategicnya, sehingga di kemudian hari kita bisa lebih mengembangkannya lagi.


Bila sejak awal kita ingin mengembangkan karir dengan menjadi pegawai/karyawan/staff di perusahaan, atau institusi lainnya, maka pelatihan yang lebih bermanfaat untuk kita ikuti adalah bagaimana menembus dunia kerja, menulis resume secara efektif, memenangkan wawancara atau menghadapi tes masuk calon karyawan, dibandingkan ikut pelatihan jurnalistik atau entrepreneurship.


Perencanaan karir membuat kita dapat melihat secara lebih jelas lagi mengenai sumber penghasilan bagi kebutuhan hidup kita. Karir berbeda dengan perkerjaan, karir bisa berupa pekerjaan tetapi pekerjaan belum tentu sebuah karir. Begini ceritanya, dalam kamus Poerwadarminta makna karir sebenarnya adalah ”kemajuan dalam kehidupan; perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan, jabatan, dan sebagainya”. Sementara pekerjaan dimaknai sebagai ”kegiatan-kegiatan untuk mencari nafkah”. Jadi, ”karir” adalah pekerjaan juga, tetapi bukan sembarang pekerjaan. Suatu pekerjaan yang dilakukan untuk mencari nafkah disebut sebagai ”karir” hanya apabila ia memberikan peluang untuk maju dan berkembang. Kebayang bedanya? Misalnya, kalau pekerjaannya menjadi penjaga pintu tol? Atau petugas administrasi? Resepsionis? Itu pekerjaan atau karir yah?


Kita tentunya tidak ingin hanya sekedar ”bekerja” saja dan mendapat penghasilan, lebih dari itu disamping kita memiliki misi besar untuk mengkondisikan lingkungan kita untuk terwarnai dengan nilai-nilai Islam. Hal ini semakin mengharuskan kita untuk berpikir dan merencanakan tentang karir ketimbang sekedar bekerja. Kecuali jika memang sejak awal, kita sudah memutuskan untuk ”yang penting kerja!” ya sudah. Anda akan melewatkan begitu banyak kesenangan dan kenikmatan dalm mengeksplorasi dan mengelaborasi diri dalam berbagai potensi yang Allah telah berikan kepada kita. Akhirnya, kita sulit untuk menjadikan diri kita sebagai penentu dalam pekerejaan kita, kita sulit mengarahkan apalagi mengembangkan apa yang kita lakukan, karena kita tidak mempunyai peta dari perjalanan karir kita, yang mungkin juga perjalanan hidup kita.


Jadi, apa sih ”makhluk” perencanaan karir itu?

Perencanaan karir adalah sebuah aktivitas yang dilakukan secara terarah dan terfokus dengan berdasarkan pada potensi (minat/bakat/kemampuan/keyakinan/nilai-nilai) yang kita miliki untuk mendapatkan sumber penghasilan yang memungkinkan kita untuk maju dan berkembang baik secara kualitas (hidup) maupun kuantitas (gaji/jabatan dan tanggung jawab yang kita dapatkan). Huuh.. nangkep khan?


Secara global perencanaan karir itu terdiri dari 8 langkah, yaitu:


1. Mengembangkan rencana karir. Pikirkanlah mengenai apa yang akan kita lakukan dan langkah-langkah strategis apa yang dibutuhkan untuk melakukan hal-hal yang kita inginkan.

2. Tinjaulah kemampuan serta minat yang kita miliki. Pikirkan secara serius dan mendalam hal-hal yang kita sukai, mampu kita kerjakan dengan baik, kepribadian yang kita miliki serta nilai-nilai yang kita yakini kebenarannya.


3. Cobalah mencari tahu jenis-jenis karir/pekerjaan yang mendekati dengan diri kita, ya itu tadi, kemampuan serta minat yang kita miliki, latar belakang pendidikan kita, gaji yang kita harapkan, kondisi kerja yang kita inginkan serta hal-hal lain yang akan memberikan kejelasan arah dan fokus karir/pekerjaan kita.


4. Selanjutnya, bandingkanlah keterampilan dan minat yang kita miliki dengan jenis karir/pekerjaan yang telah kita pilih. Jadi, karir/pekerjaan yang paling sesuai dan dekat dengan diri kita sangat mungkin menjadi karir/pekerjaan bagi kita.


5. Kembangkanlah tujuan karir/ pekerjaan yang kita pilih. Hal ini akan menjadi panduan yang sangat penting bagi kita untuk menyusun langkah-langkah taktis selanjutnya.


6. Ikutilah pendidikan atau pelatihan yang mendekatkan kita dengan tujuan karir/perkerjaan yang telah kita buat.


7. Hal penting yang tidak boleh dilewatkan adalah masalah keuangan. Kita mungkin akan berpikir mengenai sumber-sumber dan besarnya uang yang kita butuhkan untuk mewujudkan karir kita.


8. Cobalah minta nasehat dari beberapa sumber yang anda yakini dapat membantu anda memberikan penjelasan dan arahan megenai karir/pekerjaan pilihan anda.


Gimana, kebayang kan perjalanan perencanaan karir kita? So…? Kalau kita yakin bahwa perencanaan karir kita ini lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya, do it now! Memang, orang yang memiliki perencanaan karir belum dapat dipastikan akan memperoleh apa yang dia inginkan, tapi sudah dapat dipastikan bahwa orang yang tidak memiliki perencanaan karir tidak akan mendapatkan apa-apa. []

Oleh : Didit Rahardi, S.Psi.

Lembaga Pengembangan SDM Insanika

Sumber : Majalah Al Izzah

By : Jundullah

Jika Komitmenmu Benar-Benar Tulus…

 


Hudzaifah.org“Dan antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah ; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-menunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” [Al-Ahzab 33:23]

1. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka tidak akan banyak aktivis dakwah yang berguguran di tengah jalan. Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.


2. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.


3. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran akan semarak, rasa saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para aktivis dakwah akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.


4. Jika komitmen aktivis dakwah dakwah benar-benar tulus…, maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau di barisan belakang. Komitmennya tidak akan berubah ketika ia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang mengeluarkan keputusan dan ditaati atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau dihormati.


5. Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka hati seorang aktivis dakwah akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak tersisa tempat sekecil apa pun untuk permusuhan dan dendam.


6. Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus…, maka sikap toleran dan saling memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah. Namun sebaliknya, semboyan yang diusung adalah ”Saya sadar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin Anda akan selalu memaafkan saya.”


7. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap aktivis dakwah, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena dia akan selalu menggunakannya untuk beribadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan yang mencegah kemungkaran. Atau, menjadi murabbi yang gigih mendidik dan mengajari anak serta isterinya di rumah. Aktivis dakwah yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.


8. Jika komitmennya benar-benar tulus…, maka setiap aktivis dakwah akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi arti keuntungan pribadi dan menang sendiri.


9. Jika komitmen aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata. Tidak ada kata ”ya” untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat. Kata yang ada adalah kata ”ya untuk segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.


10. Jika komitmen para aktivis dakwah benar-benar tulus…, maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah. []

By : Ayat Al Akrash

Sumber : Kitab ”Komitmen Da’i Sejati”, Muhammad Abduh

 

Jam Malam Akhwat…

Hudzaifah.org – Keluarnya seorang wanita dari rumahnya memang seringkali bisa menimbulkan fitnah, apalagi bila dilakukan di malam hari. Pada saat fitah itu terjadi, maka sebenarnya amat perlu untuk diperhatikan hukum-hukum terkait dengan keluarnya wanita tanpa mahramnya.

Sebenarnya dalam nash tidak ada batasan boleh keluar siang dan tidak boleh malam, sehingga tidak ada dalil yang menyebutkan tentang batasan kapankah wanita itu boleh keliaran di siang hari dan kapankah keliaran itu diharamkan ketika malam hari. Maka pertanyaan itu memang tidak ada jawabannya secara syarih dari nash Al-Quran maupun As-Sunnah An-Nabawiyah.

Jawabannya memang kembali kepada ‘urf yang berlaku di suatu komunitas. Dan pastilah hal ini bersifat nisbi. Sebab selama tidak ada batasan yang sharih dari nash, pastilah orang-orang akan membuat batasan yang relatif dan subjektif sesuai dengan pandangan masing-masing.

Kalau keluarnya para aktifis dakwah wanita ini di malam hari berkeliaran kesana kesini telah menjadi semacam budaya kampus, maka memang diperlukan proses penyadaran dari para pemegang kebijakan setempat. Sehingga budaya itu bisa secara sistematis disesuaikan dengan tingkat ‘urf yang berlaku secara umum di suatu tempat.

Apalagi bila wilayah kampus masih terbilang wilayah pedesaan, tentunya masih sangat kental memegang budaya bahwa wanita tidak berkeliaran di malam hari. Maka akan menjadi pemandangan yang kontras bila para aktifis dakwah wanita justru berkeliaran di malam hari di suatu lingkungan yang ketat dalam masalah batasan itu.

Para pemegang kebijakan dakwah di wilayah memang perlu memperhatikan masalah ini dan memberikan pengarahan yang tepat kepada para aktifis dakwahnya. Tentu bukan sekedar dituangkan dalam taklimat sekilas, melainkan harus dimasukkan dalam kurikulum pembinaan. Sehingga akan menjadi bagian dari pengajaran yang merasuk dalam setiap perilaku dan gerak gerik kehidupan sehari-hari.


Kebijakan itu bisa dimusyawarahkan dengan para ustadz, pemimpin dan tokoh masyarakat, termasuk para tokoh aktifis dakwah dari kalangan wanita juga. Tujuannya adalah untuk mendapatkan semacam konsensus bersama tentang batasannya. Katakanlah disepakati bahwa terbenamnya matahari adalah batasan para wanita aktifis dakwah ini sudah harus masuk rumah masing-masing, kecuali untuk alasan syar`i yang punya nilai urgensi tersendiri.


Lalu kebijakan ini perlu disosialisasikan secara sistematis dan bertahap. Bisa melalui materi dakwah, pesan khusus, taklimat, pengarahan umum, buku, tulisan dan kajian syariah yang disebarkan secara luas.

Yang penting, pentahapannya perlu dibuat sebaik mungkin agar tidak terkesan menjadi beban. Ini bisa kita tiru dari bagaimana proses pengharaman khamar di masa Rasulullah SAW yang dilakukan secara bertahap. Juga proses pembebasan budak yang tidak meruntuhkan sendi-sendi ekonomi. Sosialisasi yang baik mungkin bisa dimulai dari para seniornya terlebih dahulu, sehingga tatkala kebijakan itu sudah bisa berjalan di tingkat senior, maka para juniornya dengan sendirinya akan mengikuti.


Namun untuk bisa sampai kepada proses itu, perlu perangkat keras dan lunak. Yang paling utama adalah riset dan syuro yang melibatkan sekian banyak elemen dakwah, ahli syariah dan pemuka masyarakat.


Tidak mungkin membuat aturan yang dibakukan dan berlaku secara nasional. Sebab masing-masing komunitas pasti punya zhuruf dan ‘urf yang berbeda.
Maka kesertaan pemegang kebijakan di lapangan jauh lebih berperan.

Definisi Dasar dan Tujuan Dakwah Kampus

 


Hudzaifah.org – Dakwah Kampus merupakan salah satu bagian dari dakwah secara umum. Dakwah kampus mengkhususnya dirinya untuk bergerak dalam sebuah miniatur masyarakat kecil yang bernama masyarakat kampus. Oleh karena itu dalam menjalankan roda dakwahnya, Dakwah Kampus memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda dengan dakwah di wilayah lain. Dengan kata lain, pola Dakwah Kampus tentu akan berbeda dengan pola di Dakwah Remaja Masjid, atau pada Dakwah di Perkantoran, dan sebagainya. Oleh karena itu, sebelum kita lebih jauh membicarakan mengenai bagaimana rincian pola dan strategi dakwah kampus, maka perlu kita pahami dahulu apa definisi dasar dari Dakwah Kampus.

Dakwah Kampus adalah dakwah ammah harokatudz dzahiroh dalam lingkup perguruan tinggi. Dakwah yang sifatnya terbuka, berorientasi kepada rekrutmen dakwah di kalangan civitas akademika secara umum, dan aktivitasnya dapat dirasakan oleh civitas akademika. Civitas akademika yang dimaksud di sini adalah para mahasiswa dan dosen perguruan tinggi. Civitas akademika merupakan bagian dari masyarakat kampus yang hidup dengan peraturan, ada peraturan kampus (rektorat), peraturan ormawa, dan sebagainya. Sehingga untuk dapat mengejewantahkan dakwah ammah harokatudz dzahirah tersebut, maka prinsip ‘legal’, ‘formal’, dan ‘wajar’ dalam kacamata civitas akademika, menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh Dakwah Kampus. Salah satu derivasi dari hal ini, maka biasanya sebuah lembaga dakwah kampus perlu membuat AD/ART sebagai bagian dari bentuk legalisasi organisasi dakwah kampus di sebuah perguruan tinggi.


Untuk menjalankan roda Dakwah Kampus, maka dibutuhkan personil-personil, yaitu Aktivis Dakwah Kampus (ADK). ADK adalah kader dakwah dan tarbiyah yang memiliki peran dalam Dakwah Kampus. Peran yang dilakukan bisa berupa sebagai pengurus lembaga dakwah kampus, murobbi kampus, dan sebagainya. Peran ADK ini bisa dijalankan oleh kader dakwah yang bertitel mahasiswa, atau dosen, atau kader dakwah lainnya yang bersinggungan dengan Dakwah Kampus. Mereka harus dapat bergerak bersama-sama dalam koridor strategi dakwah kampus yang bersangkutan.


Sebagaimana telah diungkapkan di atas, dalam pergerakannya dakwah kampus memiliki medan tersendiri. Medan pergerakan dakwah kampus adalah area di mana dakwah kampus mengaktualisasikan diri. Medan Dakwah Kampus yaitu lingkungan internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap dakwah kampus, meliputi manusia-manusianya (para civitas akademika, pejabat dan pegawai kampus, alumni), sarana-sarananya (lembaga kemahasiswaan, institusi perguruan tinggi, institusi pemerintah terkait, institusi kerjasama antar perguruan tinggi), dan aturan main yang berlaku (peraturan perundangan terkait, kurikulum dan sistem administrasi perguruan tingggi), serta sarana dan prasarana kampus.

Dan yang terakhir dalam kajian ini adalah tujuan Dakwah Kampus, terakhir dan sangat penting. Karena tujuan dakwah kampus harus selalu menjadi satu hal yang terus diingat oleh para ADK, agar mereka tahu ke mana arah dakwah kampus berjalan. Tujuan utama dari Dakwah kampus adalah adanya suplai alumni yang berafiliasi kepada Islam, dan optimalisasi peran kampus dalam upaya mentransformasi masyarakat menuju masyarakat Islami. Derivasi dari hal ini maka peran tarbiyah kampus yang berkesinambungan – untuk menghasilkan alumni-alumni yang berafiliasi kepada Islam – menjadi sangat penting. Derivasi lainnya, lembaga dakwah kampus perlu secara bertahap menjadi lembaga dakwah kampus yang matang, agar dapat memainkan perannya di perguruan tinggi yang bersangkutan untuk dapat mengusung perubahan. Mengenai tahapan dakwah kampus ini perlu kajian tersendiri.


Untuk mencapai tujuan di atas, ada beberapa sasaran antara yang harus dicapai terlebih dahulu. Sasaran tersebut antara lain:


1. Terbentuknya bi’ah (lingkungan) yang kondusif bagi kehidupan Islami di kampus, baik dalam sisi moral, intelektual, maupun tanggungjawab sosial. Kita tahu bahwa kampus adalah lingkungan yang heterogen. Ketika berinteraksi di dalamnya, maka butuh kekuatan untuk menjaga idealisme dengan tetap memperhatikan realitas. Hal ini berarti dakwah kampus memerlukan sebuah lingkungan kecil yang senantiasa dapat terus men-charge ruhiyah para ADK di tengah-tengah aktivitasnya di kampus. Sarana untuk itu adalah tarbiyah yang berkesinambungan untuk para ADK dan yang didakwahkannya.


2. Terbentuknya opini ketinggian Islam di kalangan kampus. Oleh karena itu syiar dalam mengkampanyekan kemuliaan Islam harus terus dilakukan secara rutin. Sarana-sarana syiar untuk ini cukup banyak, misalnya majalah, perpustakaan, peringatan hari besar Islam, tabligh akbar, dan sebagainya. Barangkali bisa kita diskusikan mengenai hal ini dalam kajian tersendiri.


3. Terbentuknya kesinambungan barisan pendukung dakwah. Untuk itu, tarbiyah yang berkesinambungan di setiap angkatan mahasiswa harus dipastikan berjalan. Ini membutuhkan sebuah lajnah yang dapat mengawasi itu dalam jangka panjang.


4. Terbentuknya hubungan timbal balik yang sinergis antara dakwah ammah dengan pengkaderan. Artinya, semua rekrutmen-rekrutmen dakwah diupayakan dapat dilanjutkan dengan proses dakwah secara khusus terhadap orang-orang yang direkrut tersebut.


Demikian kajian singkat mengenai definisi dasar dan tujuan dakwah kampus. Semoga dapat menjaga orisinalitas dakwah kampus di tengah-tengah proses perubahan yang semakin cepat. (hdn)

 

Dakwah tak pernah henti..!!!

 

BERGERAK dalam dakwah tak ubahnya seperti bertani. Diawali dengan kehati-hatian menyemai benih. Kemudian, dengan penuh was-was menanamnya di areal sawah luas. Ada rasa khawatir kalau tunas-tunas muda termakan hama. Tapi kadang, kehadiran belut dan gabus bisa menggoyahkan penantian. Demi rezeki dadakan, padi muda terlantar.

 

Hidup dalam gerakan dakwah memang penuh tantangan. Seperti tak mau berhenti, ujian dan cobaan silih berganti menghadang. Kalau mau ditafsirkan, ujian mungkin bisa berukuran kolektif. Dan cobaan bersifat individual.

 

Disebut kolektif, karena cakupannya menyeluruh meliputi apa pun. Termasuk, lembaga yang menjadi payung dakwah. Bayangkan, jika sebuah lembaga yang begitu peduli dengan dakwah dicap sebagai sarang teroris. Mulailah cap buruk itu menyebar ke seluruh masyarakat. Ada yang prihatin, dan tak sedikit yang akhirnya mencibir.

 

Begitu pun dengan cobaan. Tanpa dakwah pun, setiap orang tak bisa luput dengan cobaan. Karena hakikat kehidupan adalah cobaan. Siapakah di antara kita yang akhirnya mampu mempersembahkan produk yang terbaik. Dan dakwah memberikan bobot tersendiri dari nilai sebuah cobaan. Apa pun bentuknya.

 

Lahir dan meninggal misalnya, merupakan pemandangan biasa buat masyarakat. Biasa karena setiap orang akan mengalami itu. Tapi, itu akan berbeda ketika sudut pandang menyertakan hitung-hitungan dakwah. Kelahiran bisa diartikan sebagai penambahan aset dakwah. Dan kematian berarti pengurangan pendukung dakwah. Penambahan dan pengurangan pendukung dakwah adalah bentuk lain dari anugerah dan masalah dalam dakwah. Pendek kata, seorang aktivis dakwah tidak mungkin memisahkan antara masalah pribadi dengan masalah dakwah. Keduanya selalu berkait. Masalah mencari istri, juga akan berdampak pada masalah dakwah. Begitu pun dengan urusan pekerjaan, Iokasi tempat tinggal, dan sebagainya.

 

Di masa Rasulullah saw., ada seorang sahabat dari kaum Anshar yang menangkap pesatnya perkembangan Islam dengan kacamata yang keliru. Di satu sisi ia memang bersyukur kepada Allah swl, Islam kian meluas menembus batas benua, ketika menoleh ke diri dan keluarga, ia pun mulai terpengaruh untuk tidak lagi ikut dalam pentas perjuangan Islam. “Ah, cukup perjuangan saya sampai di sini. Sudah banyak kader-kader Islam yang lebih kredibel. Kini, saatnya memperbakl ekonomi pribadi,” seperti itulah kiranya ungkapan sang sahabat.

 

Saat itu juga, Allah swt. menegur. Turunlah ayat Alquran surah Al-baqarah ayat 195: “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan dan berbuat ihsanlah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-oranq yang berbuat ihsan.” (diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tarmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan yang lainnya yang bersumber dari Abi Ayub Al Anshari. Menurut Tarmidzi, hadits ini shahih).

 

Mungkin secara manusiawi, niat baik sahabat Rasul itu bisa dimaklumi. Wajar kalau mereka mulai menatap kemapanan ekonomi diri dan keluarga setelah sekian tahun berkorban habis-habisan buat perjuangan dakwah. Wajar kalau seorang kader perintis mulai menghitung masa depan keluarga setelah tampak masa depan Islam kian gemilang. Mungkin dalih-dalih itu bias dianggap wajar. Namun Allah justru menilai niat itu sebagai sesuatu yang berat. Salah. Bahkan, menjerumuskan diri ke dalam jurang kebinasaan. Allah swt. tidak menginginkan hamba-hamba-Nya yang selama ini gemar investasi pahala yang begitu besar, tiba-tiba putus untuk urusan domestik. Karena, balasan dari Allah yang telah tersiapkan jauh lebih baik dari apa yang akan mereka usahakan di dunia ini.

 

Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 14, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga).

 

Peristiwa itu kian mengingatkan generasi dakwah pasca sahabat Rasul bahwa sulit memisahkan antara memisahkan kepentingan dakwah dengan urusan pribadi. Karena disitulah nilai lebih dari seorang aktivis dakwah. Ia menjual dirinya kepada Allah swt. Dan transaksi itu mencakup segala sumber daya yang melingkupinya. Termasuk, harta dan bisnis.

 

Begitulah firman Allah swt. dalam surah At-Taubah ayat 111, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh…” Suatu ketika, ada seorang pemilik pohon kurma yang pelit dengan tetangganya. Mayang pohon ini menjulur ke rumah sang tetangga yang fakir. Setiap kali akan memetik buah, sang pemilik selalu melalui halaman si fakir. Tapi, tak satu pun kurma yang diberikan. Bahkan, kurma yang sempat terpegang anak sang tetangga yang fakir pun ia rampas. Tinggallah sang fakir menahan rasa. Hingga akhirnya, ia mengadu ke Rasulullah saw.

 

Rasulullah menemui sang pemilik pohon. “Maukah kau berikan pohon kurmamu itu kepadaku. Dan ganjaran pemberian itu adalah surga,” ucap Rasul. “Hanya itu? Sayang sekali, pohon kurma itu teramat baik.” Dan, sang pemilik itu pun pergi.

 

Tawaran Rasul tetang pohon kurma itu pun sampai ke telinga seorang sahabat yang kaya. Ia menemui Rasul. “Apakah tawaran Anda tadi berlaku juga buatku?” tanya sang sahabat. Rasul pun mengiyakan. Serentak, ia mencari sang pemilik pohon. Dan terjadilah tawar-menawar. Sang pemilik pohon berujar, “Pohon kurma itu tak akan aku jual. Kecuali, ditukarkan dengan empat puluh pohon kurma.” Awalnya, sang sahabat agak keberatan. Tapi, akhirnya ia pun setuju. Kemudian, ia menyerahkan kepemilikan pohon itu kepada Rasulullah saw. Dan, Rasul menghadiahkannya kepada si keluarga fakir.

 

Peristiwa itu mendapat penghargaan tersendiri dari Allah swt. Dan, turunlah surah AI-Lail. Di antara surah itu berbunyi, “…Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka, Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka, kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan yang sukar)…… (QS. 92: 5-10)

 

Ujian dan anugerah akan silih berganti menghias jalan dakwah. Dan, pagar jalan itu adalah sabar dan istiqamah. Tinggal, bagaimana pilihan kita. Siapkah kita menanti panen padi dakwah yang telah kita tanam dengan waktu yang begitu lama. Atau, menjadi terpedaya dengan lambaian belut dan gabus yang menggiurkan.

 

(Muhammad Nuh)

Sumber: SAKSI No.25 Tahun V 23 September 2003 (judul asli “Menjadi Petarung Sejati”)

 

Tambahan:

Kegagalan ataupun keberhasilan pada satu fase dakwah seringkali melemahkan semangat kita untuk terus berjuang. Kegagalan atau keberhasilan bukan isyarat untuk berhenti berjuang dan seharusnya kita tetap terus berjuang. Dakwah tiada kenal kata henti. Tempat dan waktu tidak menjadi batasan untuk berhenti berdakwah. Dakwah sekolah, dakwah kampus, dakwah di dunia maya, dst sesuai kapasitas yang kita miliki. Kereta dakwah akan terus bergerak, dengan atau tanpa kita. Jika kita berhenti atau bersikap lemah maka Allah akan menggantinya dengan generasi yang lebih baik, yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

 

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Maaidah:54)

Maka relakah kita menjadi generasi yang tergantikan? BERGERAK ATAU TERGANTIKAN!

Tarbiyah dan Pembentukkan Kader Dakwah
Oleh : Ust. Abdul Muiz, M.A

Rijalud dakwah atau kader dakwah adalah seorang yang telah tertarbiyah secara intensif sehingga memiliki kesiapan untuk berjuang dan berkorban di jalan Allah, dan juga berpotensi menjadi anashirut taghyir atau agen perubah di masyarakat. Karena ia akan melakukan kerja besar yaitu merubah masyarakat ke arah yang lebih baik dan Islami, maka ia harus memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandingkan masyarakat umumnya. Namun tidak semua orang harus menjadi kader karena biasanya lebih sedikit jumlahnya dibandingkan masyarakat umum. (QS 33:23). Para kader dakwah adalah mereka yang telah siap berkorban jiwa, raga dan seluruh harta benda serta potensi yang mereka milliki (QS At Taubah : 11).

Karakter2 yang harus dimiliki kader dakwah :
1. Pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh dari Al Qur’an & Sunnah.
2. Keikhlasan yang tinggi sehingga ia menjadi pembela fikroh dan aqidah bukan membela kepentingan pribadi.
3. Mengutamakan bekerja dari pada berbicara.
4. Totalitas dalam dakwah.
5. Siap berjihad dalam menegakkan syariat Allah.
6. Siap berkorban dengan segala potensi yang dimilikinya / Memiliki ketegaran untuk mencapai cita2 dakwah sekalipun harus menempuh perjalanan dakwah yang panjang, berat & berliku.
7. Selalu taat kepada qiyadah dan jamaah.
8. Tsiqoh kepada qiyadah dan jamaah.
9. Selalu memelihara kemurnian ukhuwah yang berdiri di atas landasan kasih sayang dan saling mencintai.

Menurut Hasan Al Banna karakteristik kader dakwah yaitu: “rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan rijalul ‘amal (orang yang pandai bekerja) dan rijalul ‘amal tidak sama dengan rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Rijalul jihad pun tidak sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yaitu orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil. Menurut beliau “Sesungguhnya orang yang pandai berbicara itu banyak, tetapi sedikit diantara mereka yang tetap konsisten ketika bekerja. Dan banyak orang yang pandai bekerja tetapi sedikit yang mampu mengemban amanah jihad yang berat dan mau bekerja keras.”

Dasar-dasar Pembinaan Kader Dakwah:

- Al Fahmu ad Daqid (pemahaman yang luas)
Kader dakwah yang memiliki pemahaman Islam yang benar akan terpelihara dari berbagai penyimpangan (inhirafat). Penyimpangan fikroh bersumber dari penyimpangan salah apakah penyimpangan juz’i (parsial) dan keliru.

- Al Iman al amiq (keyakinan yang kuat)
Kader dakwah harus memilliki keyakinan yang kuat dan tertanam di dalam jiwanya bahwa Islamlah satu2nya system yang mampu memenuhi kebutuhan manusia dunia dan akhirat. (QS Az Zukhruf:43). Selain itu kader juga harus meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang membela agamaNya (QS Al Hajj : 40)

- At Takwin al matin (pembinaan yang kokoh)
Kader dakwah dilahirkan oleh sebuah proses pembinaan yang melingkupi berbagai aspek kehidupan yaitu Shibghah Fikriyah (pembentukan fikroh), Shibghah Ruhiyah (Pembentukkan mental spiritual), Shibghah Harakiyah (Pembentukkan Harokah). Sehingga kader memiliki ketahanan dan mampu melakukan perubahan. Tugas besar hanya bisa dilaksanakan oleh orang besar dan amanah yang berat hanya bisa diemban orang yang kuat. “Jalan dakwah tidak dihampari permadani, tidak pula ditaburi bunga melati dan minyak kasturi. Sebaliknya, jalan dakwah dipenuhi duri dan ranjau2 yang setiap saat siap meledak, dan jalan berliku penuh tikungan maut sementara jurang2 curam. Mengingat jalan dakwah begitu berat maka dibutuhkan kader2 dakwah yang tahan banting dan pantang menyerah.” Yang menjadi perhatian IM adalah Tarbiyatun nufus (mendidik jiwa), tajdidul arwah (memperbaharui semangat), taqwiyatul akhlaq (memperkokoh moral) dan tanmiyaturrajulah as shahihah (mengembangkan kepahlawan yang benar).

- Tarbiyah Mutawashilah (tarbiyah yang berkesinambungan)
Proses tarbiyah dalam Islam tidak dibatasi oleh waktu, tempat, & keadaan atau di sebut tarbiyah madal hayah (tarbiyah seumur hidup) Kader dakwah berkualitas adalah kader yang mengikuti proses tarbiyah secara intensif (tarbiyah murakazah), konferensif (mutakamilah) & berjenjang (mutadarijah) . Kader dakwah yang bermasalah dalam proses tarbiyahnya hampir dapat dipastikan berpotensi menimbulkan masalah, apakah masalah pribadi, keluarga, sosial, maupun dakwah & harokah. Tarbiyah dapat dilakukan secara mandiri (tarbiyah dzatiyah)/secara kolektif (jamaiyah). Namun tarbiyah dzatiyah tidak akan dapat mengungguli tarbiyah jamaiyah, karena sehebat dan sepintar apapun seseorang ia tidak bisa menilai dirinya sendiri secara obyektif dan syaithon sangat suka dengan orang yang menyendiri.

Sifat-Sifat Kader Dakwah

Syaikh Abdul Qodir Jailani membuat perumpamaan yang indah bagi seorang mu’min. Ia mengibaratkan mu’min yang matang proses tarbiyahnya seperti biji kurma yang ditanam di halaman sebuah rumah dengan pagar tembok mengelilinginya. Biji kurma itu kemudian merekah & menghasilkan tunas yang tumbuh subur disirami hujan serta diterangi sinar matahari. Maka jadilah ia sebuah pohon kurma yang besar, kokoh dan menjulang tinggi dengan disaksikan oleh orang banyak. Mereka bernaung di atas atap rumah yang dibuat dari ijuk yang berasal dari pohon itu sambil memunguti buah matang yang berjatuhan dari pohon itu. Pohon kurma itu terjaga dan terpelihara dari tangan2 jahat karena ada pagar tembok yang mengelilinginya. Kehidupan tarbiyah kader dakwah seperti proses pertumbuhan pohon kurma tersebut. Kader dakwah yang berkualitas memiliki sifat2 mulia yang tercermin dari akhlak, sikap, dan prilaku sehari-harinya. Sifat2 tersebut antara lain:

a. Ubudiyah Khalishah Lillah (semangat yang tinggi untuk beribadah kepada Allah SWT)
Poros dakwah Islam berputar pada ibadah yang murni kepada Allah SWT. Melaksanakan ibadah yang fardhu dan memperbanyak yang sunnah. Sangat takut akan siksaNya dan bergetar hatinya bila dibacakan kepadanya ayat2 Al Qur’an. (QS 8 : 2)

b. Tajridus sair wal hadaf lillah (mengarahkan perasaan dan tujuan hanya untuk Allah)
Seorang kader dakwah hendaknya hanya berorientasi kepada Allah dan mencari ridho serta surgaNya. Ciri kader dakwah yang membela agama Allah adalah selalu merasakan kedekatan dengan Allah. Hatinya selalu dapat menikmati lezat dan manisnya ketaatan kepada Allah, Rosul, dan Qiyadah.

c. Rafdhutasallut al jahiliyah (menolak kekuasaan jahiliyah)
Diantara salah satu tanda akan tibanya hari kiamat adalah terjadinya penyimpangan yang sangat jauh seperti telah dijelaskan Rosululllah : “sesungguhnya akan tiba masanya tahun2 penipuan dan kebohongan. Orang2 yang bohong dianggap benar dan orang yang benar dianggap bohong. Orang yang khianat diberi amanah, sementara orang yang jujur dianggap khianat dan orang2 yang tidak tahu apa2 berbicara urusan publik” (HR Ahmad).
Kader dakwah harus memiliki sifat yang jelas yakni menolak dengan segala bentuk kekuasaan jahiliyah.

d. Selalu Memilih Hidup Serius
Sifat ini banyak dimiliki para sahabat dan generasi unggul dari kalangan tabi’in, serta generasi penerus seperti Umar bin Abdul Aziz, Ahmad bin Hanbal, para fuqaha, mujahidin, du’at yang telah menyerahkan seluruh kemampuan diri untuk mempengaruhi kehidupan dengan syariat Islam. Begitu juga seharusnya kader dakwah.

e. Tha’atul jama’ah wal qiyadah (mentaati jama’ah dan pemimpin)
Khalifah Umar bin Khotob berkata “Tidak ada Islam tanpa jama’ah, tidak ada jama’ah tanpa imarah (kepimpinan) dan tidak ada imarah (kepemimpinan) tanpa taat (disiplin organisasi).

Ciri2 kader yang taat diantaranya adalah:
a. Taat disaat giat dan malas, disaat susah dan mudah, baik disukai/tidak.
b. Sur’atul Istijabah (segera menyambut dan melaksanakan perintah)
c. Taharrid diqqoh (melaksanakan perintah dengan tepat dan akurat)
d. Tidak meninggalkan tugas tanpa izin qiyadah dan tidak mudah meminta izin kecuali dalam keadaan sangat darurat.
e. Ats tsabat ‘alat thoriqi dakwah (konsisten dijalan dakwah)
Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi iman. Iman bukanlan sekedar kata2 yang diucapkan melankan kewajiban dan tanggung jawab serta jihad yang membutuhkan kesabaran dan kekuatan.

Agar kader dakwah tetap konsisten di atas jalan dakwah maka ada Anashirut Tsabit (faktor2 pendukung konsistensi) yang perlu diperhatikan yaitu :

- Dawamuluju ilallah (senantiasa kembali kepada Allah)

- Taqorrub ilallah menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap muslim. Semakin dekat seseorang dengan Allah semakin besar peluangnya untuk mendapatkan rahmatNya ialah istiqomah di jalan dakwah.

- Ma’rifatu thobi’atu thoriq (mengenal karakter jalan dakwah)
Diantara karakter jalan dakwah adalah jalan yang panjang, bertingkat, dan banyak rintangan. Setiap kader dakwah harus memperkuat dirinya dengan kesabaran, nafas panjang, dan memahami bahwasanya ia mungkin saja meninggal lebih dulu sebelum melihat kemenangan. Yang penting ia mati di jalan Allah.

- Adamu tanazu’ (menghindari konflik internal)
Konflik internal biasanya terjadi disebabkan ta’adud qiyadah (dualisme kepemimpinan) dan ta’adud taujihat (banyaknya sumber arahan) / bila hawa nafsu yang mengarahkan pendapat dan pemikiran (QS Al Anfal : 46)

Assalamu’alaikum.. selamat datang di Blog sederhana kami! kaifahaluukum? ;-)

Alhamdulillah, akhirnya ekspansi dakwah komda FUF bisa juga sampai di dunia maya. Mohon doa dan dukungannya agar kami tetap dan terus istiqomah di jalan ini… Syukron, Jazakallah. 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.